“aq laki-laki yang ga akan pernah pergi untuk berselingkuh atau bermain-main dengan perempuan lain diluaran.. remember that. aq laki-laki yang hanya pergi karena diusir.. dan sekali lagi itu yang akan aq ingat dari kamu perempuan..!!”
Kemudian laki-laki itu kembali khusyuk lagi dengan dirinya sendiri, ia mendorong bayangan perempuan itu pergi dari ruangnya dan membanting hancur pintunya, lelaki itu terluka, ia menatap pintu hatinya dengan dingin dan penuh kebencian, hanya satu yang tumbuh di dirinya saat itu.. rasa takut.
ia duduk diam disebuah kursi ditengah ruangnya, ia tak lagi disudut dan meringkuk, ia tak lagi seperti dulu saat perempuan pertama meninggalkannya dan ia menghancurkan pintu yg hampir sama, tangannya terkepal dan terangkat tinggi-tinggi, lalu dengan seluruh rasa kesal yang dapat ia raih dan temukan di udara sekitarnya ia membanting tangannya, dikepalkan dan dihantamkan tangannya itu ke meja tempat kursi itu biasa disurukkan, dan tangannya terbasahi oleh darah, nyeri dan ngilu yang menjalar ke dari tangan sampai ke otaknya sangat familier, satu detik itu ia terlupa pada perempuan yang baru saja diusirnya pergi dari ruang pikirnya, dan ia masih sangat geram saat menyadari bayangan perempuan itu masih ada di dalam ruangnya, rangkai makian dan cakarannya pada dinding tak berhasil membuat bayangan itu pergi.
Sedikit reda dari perih, ngilu dan rasa lebam di tangannya membuat bayangan perempuan itu muncul lagi di dindingnya, diraihnya kaki meja yang tadi menjadi pelampiasan sesaatnya, lengannya mengekar saat mengayunkan meja yang kemudian melesat ke dinding tempat bayangan itu menempel. Dan serapuh cermin meja itu pun ambyar menjadi bilah-bilah kecil kayu warna hitam dan putih. Ia menendang kursinya, menyingkirkannya menjauh, ia tak ingin ada sesiapapun disini, ia ingin benar-benar sendiri. Kemudian ia duduk, matanya kosong menatap ke depan, sisi ruangnya yang tak terisi apapun, lalu ia menunduk dan menungkupkan wajahnya, tangannya memelukĀ lututnya lalu ia mulai diam, diam yang sangat diam, bahkan tubuhnya tak bergerak lagi, dan ruangnya perlahan-lahan menjadi gelap, namun dalam gelap itu, dingin yang mampu menggores kulit mulai meraih-raih udara untuk dibekukan.
Ruang itu telah dibekukannya…
Diluar ruang itu, sesosok perempuan berdiri menatap sebuah ruang, pintunya telah hancur dan jendela-jendelanya dulu telah hilang, ia tertunduk dan entah apa yang akan diperbuatnya kemudian.
Dulu perempuan ini, perempuan yang berbeda ini, ia pertama kali melihatnya sedang mengintipnya dari jendelanya, menemukannya disudut ruang ini dan entah dari mana dia masuk namun dia tiba-tiba duduk disebelahnya.. ia bahkan tak berkata apa-apa, hanya duduk dan ikut duduk terdiam di sudut ruangnya.
ia tak keberatan, entah kenapa di matanya perempuan ini tampak berwarna di ruang hitam putihnya. Dia tesentak saat perempuan itu menatapnya yang sedang menjelajah wajah perempuan itu, mata perempuan ini, dari kesemua perempuan ini, hanya matanya yang tak berwarna, rupanya hati perempuan itu sama matinya dengan hatinya.
“aq punya teman” pikirnya. Tapi demi egonya ia membuang muka dan kembali menungkupkan kepalanya di lututnya, ia tak mau mengakui bahwa sudut ruang lain di depannya mulai bercahaya, ruangnya mulai berwarna… Dengan pikirannya, lelaki itu menggeser sebuah almari hitam putih untuk menutup sudut itu, awalnya berhasil dan ruangnya kembali menjadi hitam putih.. tapi cahaya warna itu seolah mewabah di ruangnya. Lelaki itu menatap perempuan itu dengan heran, pikirannya bertanya-tanya..
“siapa dia??”.
perempuan itu menoleh dan seolah tau apa yang dipikirkan lelaki yg ada didepannya, dia tersenyum. “aku ya aku..”, ia mendengar suara dipikirannya, yang bahkan tak perlu ia tanyakan lagi, itu suara perempuan dihadapannya.
Namun nanar matanya sekilas menangkap wujud pintu ruangnya yang sudah terserak hancur di lantai hitam putih ruangnya, matanya seolah kembali menajamkan belati yang perlahan tercabut dan kemudian pelan-pelan dilesakkan lagi ke luka hatinya, di ruangan hitam putih itu si lelaki yg telah hancur itu mengiris nadi rasanya yang pelan-pelan ia sadari telah mulai merangkai sel-sel nya untuk sembuh. Ketakutannya pada luka itu membuat dia menyiksa dirinya untuk bisa lupa, dia tergila-gila pada rasa sakit itu, dia ketagihan.
Perlahan darahnya merembes dari nadi rasanya, tidak merah, darahnya kombinasi apik antara warna hitam dan putih, ia tersenyum puas, “lukaku akan segera teralihkan” pikirnya. Ia merasa sedang ditonton, ia melirik perempuan dihadapannya, sebuah senyum juga terukir disana.. di rona ayu perempuan itu. “kenapa dia tersenyum? tidakkah dia takut melihat orang melukai dirinya sendiri? tidakkah dia hendak menolongku?” tanyanya pada batinnya sendiri. Dan perempuan itu semakin tersenyum saat menatap matanya
“karena….”, jawab perempuan itu terhenti.
to be continued….
----------------------------------------------------------
links to visit:
aborsi










ngopi dhisik yuk cak, sambi rokokan…
*ngelu moco tulisane sampeyan*
aku dewe ya bingung kok…
sek tak wocone maneh wakakakaka
loh kok..
udah seru2 kok to be continued,…
haaaaaa
hahahaha… komen dulu.. bacanya abis ini…
mmmm.. *manggut manggut…*
*waiting endingnya*
-.- mesti nggak ngenak ngenak i wong moco kie..
wong iku opoo se?
@nana
hihihi..
@zen
the end is near..
*halah*
@ulan
wogh.. protes..
dilanjut ga ini?
@lingkarkecil
my mistake..
nah.. Aq nemu ide bagus ^^,
*kesal*
haduh aq ga bisa nuliskan di kertas, laptop lowbat pula.. arrgghh..!!
huhu..!!
bagian kedua selesaii.. wakakaka..
mana om?? bagian selanjutnya?
nanti malem na aq post :p
huhuhu..
kok males yo moco…
@ko besar
iyaaaa tauuuu
kritik dan saran diterima dengan tangan kriting..
mana2 traktiran hanamasanya?? :p
sekalian spa :p
*gelar tikar nunggu lanjutan*
*sulut malboro*
hah … whats with the title????&%&()(*(*(@*(*()
@ almas : njaluk mas….
aku dah baca more than 5 kali,tapi aku tetap bingung dengan perempuannya,”kasih bocoran dunk ,Pak,perempuanya kay siapa seh?!”thx
kenthang………………..
perempuan yg aneh… laki2nya juga lebih aneh hehehehe…