a frozen stage part.2

perempuan ayu itu lalu menatap dengan sorot mata yang akrab, ia menatap seolah sedang tersenyum pada seorang putra yang sedang  merajuk dan menginginkan mainan. Kemudian ia memejamkan mata dan menghela nafas panjang, sejenak kemudian dia membuka matanya dan berkata lirih pada lelaki itu..

“karena aq mengerti lukamu, aq mengerti luka yang menjadi bebanmu, luka yang bahkan membuatmu  dengan berat membekukan ruangmu itu, luka yang membuat dingin dada mu, yang membuatmu merasa tidak berarti lagi.. aq tau..”, kata perempuan itu setengah berbisik. “kamu berusaha melupakan semua ingatan tentang dia, namun semua itu hanya bisa jika otakmu terlalu sibuk untuk merespon luka yang lain.. aku tersenyum karena aq sangat mengerti akan apa yang kmu rasakan..” kata perempuan itu lagi, dan dia tersenyum, peluh di matanya menetes, entah itu karena sesuatu yang dipakainya untuk menghias matanya ataukah memang air mata perempuan ini hitam, lelaki itu tak tahu sama sekali, karena ia saat itu sedang terlalu dalam dan tenggelam menatap mata hitam putih itu, ia merasa sangat tragis saat menemukan sebuah kecantikan dalam keadaan warna yang tak berwarna lagi ini.

Sebenarnya sedikitpun laki-laki itu tak melihat satu kebohongan pun di mata sayu perempuan itu saat dia berkata seperti itu, dia memang tidak berbohong, dia tahu rasanya, tapi perih luka di nadi nya menusuk kesadarannya dan membuat ego nya tersentak.

“tau apa kamu tentang luka ku !!? , tau apa kamu tentang diriku hah !!?”, lelaki itu membentak dengan penuh marah. Ia ingin dimengerti, tapi tak semudah itu, ia ingin orang lain tahu dia terluka, bukan sekedar tahu, tapi merasa, dan bukan hanya sekedar merasa.. Lelaki itu ingin orang lain menjadi dirinya dan merasakan sakitnya juga.

ya.. sakit ini tak ada yang tau rasanya, sakit ini cuma aq yang tahu perihnya, rasa sakit ini cuma ada didalam diriku, dan tidak boleh ada satu orang pun yang berhak untuk merasa tahu akan sakit ini. Memangnya siapa perempuan ini, dia bahkan setidak tahu siapa aku seperti aq tidak mengenalnya, dan seenaknya saja dia berkata dia tahu rasa sakitku ini.

ataukah dia memang tahu??

Kalau memang dia tahu rasa sakitku ini, siapa dia??

Apakah aku sesungguhnya memang tidak mengenalnya??

Adakah pernah aq bercerita padanya sebelumnya??

Apakah dia memang mengenalku??

Dimana aq bertemu sebelum ini??

Kapan aq bertemu dengannya sebelum saat ini??

Aq memang merasa pernah mengenalnya, tapi dimana, dan kapan??

Lelaki itu merasa gusar sekali dengan ketidaktahuannya, takut tepatnya pada apa yang tidak diketahui dan tak bisa dijangkau pikirannya. Pikirannya berkelana dan bekerja keras mencari jawabannya ke setiap sudut, celah bahkan jurang ingatannya. Tapi tak satupun pertanyaan itu terjawab, hanya dugaan-dugaan yang sesungguhnya adalah pertanyaan yang dipertanyakan lagi pada ketidaktahuannya.

“sssshhh…. jangan takut..”, kata perempuan itu tiba-tiba sembari menutupkan telunjuknya di bibir merahnya,  lelaki itu tercengang. Bahkan seluruh pertanyaan yang hendak di cecarkan ke perempuan di depannya itu juga seolah merasa ketakutan dan pecah dari keruwetan yg tadinya terkumpul di ingatannya, pertanyaan-pertanyaan yang tadinya dengan gusar mengobrak-abrik file-file ingatannya kabur dan mencari celah kosong untuk bersembunyi. Lelaki itu pun terhenyak karena tak menemukan apapun untuk dipertanyakan, dan dia pun terdiam selayaknya selongsong kosong peluru yang timah dan mesiunya terlucuti. Egonya benar-benar terpelanting dan terbanting akan ketidaktahuan ini, dia memang tak tahu apapun.

Dan perempuan itu masih tersenyum dihadapannya, senyum sederhana yang dibuatnya seolah hendak menjawab seluruh pertanyaannya, dan memang dibalik senyum perempuan itu, ada jawaban-jawaban yang tersimpan.

Kemudian perempuan itu bangkit dari bersimpuhnya, ia menanggalkan pakaian yang kenakan dan membuat lelaki itu ternganga..

“a.. apa yang ka..kamu la..kukan..”, tanya lelaki itu tergagap. Dan demi melihat apa yang dihadapannya, lelaki itu tak berkedip sedikitpun.

“..aa..ap..”

“ssshhh..”, perempuan itu mendiamkan lelaki itu dengan telunjuk di bibirnya.

“diamlah..”, bisik perempuan itu.

Dan keseluruhan lelaki itu diam, bahkan pikirannya pun tak berbisik saat perempuan itu kembali bersimpuh dihadapannya dan menatap matanya dalam-dalam.

Perempuan itu tersenyum…

To be Continued..



----------------------------------------------------------

links to visit:

aborsi

23 comments to a frozen stage part.2

Leave a Reply

Connect with Facebook

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

silahkan kunjungi sponsor kami :

MP3 Search & Download

mp3 search by apapun.info

sponsor :


sponsor kami :