Percaya Cinta

“Kamu milih mana ?, Cinta karena percaya atau percaya karena cinta ? ” tanya seorang teman padaku. Wah kenapa lagi nih batinku, kenapa dia ga pernah puas menanyakan hal-hal yang menurutku selalu saja kurang lebih sama.

Dengan menyimpan jawabanku untuknya, sengaja memang pertanyaannya ga aku jawab namun aku alihkan ke beberapa hal lainnya, namun diam-diam iseng aq bawa pertanyaan itu dalam ingatanku dan aq tanyakan hal yang menurutku sedikit konyol itu pada beberapa teman-temanku yang lain, banyak diantara mereka yang menjawab pertanyaan itu dengan penjelasan dan alasannya masing-masing. Baik itu yang sederhana maupun yang kompleks.

seorang teman memilih menjawab “percaya karena cinta”, saat aq tanyakan alasannya kenapa,dijawabnya..

“karena cinta akan membuat seseorang menjadi memiliki kekuatan untuk melakukan apapun demi cintanya.. bahkan melakukan hal-hal yang sulit untuk dipercaya oleh orang yang tanpa cinta.” ucapnya tanpa menolehkan pandangannya dari jalanan yang sepi. edan.. seperti pujangga dari daerah kulonan (red: barat) pikirku.

“bahkan membunuh Tuhan ?” , tanyaku lagi yang dijawab dengan lemparan kotak korek api. (yang artinya.. jangan bicarakan soal seperti itu.)

kemudian teman lain menjawab “cinta karena percaya”, dan kemudian ia juga menjelaskan berbagai alasan yang membuatnya memilih jawaban itu, yang antara lain dan ga jauh-jauh juga sih sebenernya dari yang lain-lainnya yang memilih menjawab dengan jawaban yang sama..

“kalau kita sudah mempercayai seseorang, maka secara ga langsung kita akan merasa nyaman di dekatnya, aman dan tentram.. hal ini yang bisa membuat seseorang akhirnya bisa jatuh cinta”. Aku manggut-manggut sejenak.

“lalu saat nyaman itu hilang ? apa yang terjadi sama cintanya ?”, hari itu adalah suatu malam di bulan puasa, seusai tarawih kita memutuskan untuk cangkruk di sebuah warung di dermaga tepi sungai yang konon pada masa pemerintahan kerajaan Majapahit menjadi salah satu jalur lalu-lintas air utama, dan aq memtuskan bertanya padanya sekedar untuk membuka sebuah bahan pembicaraan dan memecah kebisuan yang entah karena rasa kantuk atau keasyikan menatap arus sungai yang pelan-pelan berarak dihembus angin.

“ya dilihat dulu, nyaman itu hilang-nya karena apa.. tapi kalo namanya cinta, maka ia toh akan berjuang untuk mempertahankan cinta itu..” jawabnya diplomatis sambil kemudian meletakkan kembali gelas kopi yang telah dicicipnya sedikit dan perlahan-lahan, tampaknya masih panas karena terlihat dari tebalnya uap kopi yang naik merambat pelan lalu hilang bersama udara.

“lalu apa bedanya dengan percaya karena cinta ?, kalau seperti itu bukannya sama saja ?” protesku sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari saku jaketku, malam ini udara terasa sedikit lebih dingin dari hari-hari biasanya, entah karena malam memang sengaja menyindir kesepianku atau malam sedang mengkritik kerinduanku pada seseorang.

“beda.., sergahnya. “Kalo percaya karena cinta itu gini.., seolah-olah karena cinta… membutakan manusia sehingga langsung percaya begitu saja, iya kan ?, kemudian dengan memberikan tanda meminta korek, lalu segera tangannya menyalakan korek api batangan yang kusodorkan, api di batang koreknya sempat hampir mati tertiup angin namun dengan terampil dan cepat ia berhasil menyalakan rokok yang diapit kedua bibirnya sebelum akhirnya api yang tadi dilindunginya dari hembusan angin dimatikannya sendiri.

“sebentar.. kalo boleh aq menggunakan kalimatmu tadi yah.., seolah-olah karena percaya… membutakan manusia sehingga langsung cinta begitu saja, nah.. gimana tuh ?” tanyaku balik sambil menghembuskan asap rokok mild yang juga entah sejak kapan sudah mulai berputar-putar dengan piawai seperti tasbih pak Haji Umar yang selalu diputar-putar ditangannya dimana saja, pernah terpikir olehku kalo pak Haji itu bakal kesulitan jika sedang buang hajat karena tasbihnya tak juga dilepaskan dari terampilnya tangannya memutar-mutar biji-biji putih yang juga konon kata anak-anak pondok muridnya, tasbih itu bisa menyala, mungkin seperti rokokku maksudnya.

“percaya itu membutuhkan proses..”, jawabnya

“apa cinta engga ?”, cetusku, sambil tetap menatap permukaan air yang kadang beriak karena ikan-ikan kecil yang tampaknya entah sedang menyantap serangga-serangga kecil atau mereka hanya sekedar mengintip keadaan di luar dunia mereka.

“tidak mudah bagi seseorang untuk bisa mempercayai orang lain”

“heheh… “, aku tertawa kecil dan menoleh padanya sambil menaikkan sebelah alisku. “apa cinta engga?”

“lalu.. kalau menurutmu?”, tanyanya singkat.

“bukannya cinta sama percaya itu satu?”, jawabku sederhana.. memang aq sengaja menjawab seperti itu. Bukan karena aq tak ingin menguraikannya satu-persatu.. namun nampaknya dengan jawaban itu temanku sudah cukup lebih dari puas.. toh memang kurang lebih seperti itulah yang lebih mudah dan sederhana untuk dipahami. Dalam tataran yang lain mungkin juga akan lain. Karena apapun itu relatif bukan ? namun relatifitas relatif itu relatif juga.

mendadak sebuah sms nyelonong masuk ke ponselku.. dan sebuah nama muncul di layar ponselku, dari dia rupanya… seorang teman yang selalu kutawarkan sesuatu untuk dikaji bersama. Aku juga mengirimkan pertanyaan yang sama padanya.

received 22.45
Kamu percaya cinta mas ?

aku cuma tersenyum.. an answer that never been less than I expect batinku. Kemudian segera jari-jariku memencet-mencet tombol-tombol di ponsel dengan pasti.

sent 22.47
emang kamu ga percaya ?  

heheh… buat si go-go yang

nanya sama aq soal ini… 

ntuh jawabannya



----------------------------------------------------------

links to visit:

aborsi

23 comments to Percaya Cinta

Leave a Reply

Connect with Facebook

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

silahkan kunjungi sponsor kami :

MP3 Search & Download

mp3 search by apapun.info

sponsor :


sponsor kami :