Another Chapter (1)

Aku bukan berasal dari tempat yang sama dengan sekarang ini, di tempatku, getaran benda dan apapun yang memiliki pola yang kalian kenal dengan gelombang tidaklah ada, tidak ada suara. Kami tidak mengenal apa yang kalian sebut dengan lapar, haus, lelah, atau mengantuk.

Tempatku bukanlah surga atau nirwana, kami (aku sendiri dan beberapa lain yang persis sama denganku) hanya menunggu, yang entah menunggu apa itu, kami tak tahu. Tidak ada petunjuk, atau apapun. Disana tidak ada sedikitpun yang bisa kugambarkan, karena tidak ada satu apapun untuk digambarkan selain aku sendiri. Aku tak pernah mengenal siapapun (atau apapun itu kami), atau dia yang berada disebelahku, dibelakangku bahkan dia yang didekatku.

Tempatku menyenangkan, bukan seperti sebuah taman bermain tempat (yang kalian sebut anak-anak) untuk bermain. Yang aku ketahui, kami hanya disini untuk menunggu, namun kami tak pernah tahu akan menunggu apa.

Aku hanya tahu aku dipanggil, bukan dengan suara, namun..

Entah

Langkahmu disampingku begitu mungil, aku memperpendek langkahku, menyamakannya jarakmu, melirik kuncirmu, dan sekilas aku melihatmu tersenyum sederhana, aku tak tahu artinya.. apakah itu berarti kamu menikmati setiap momen bersamaku??

aku tak tahu, aku tak bertanya, aku hanya diam, dan aku menikmati setiap momen itu, ya.. setiap satu-satu momen itu. Karena momen hanya ada pada saat itu, dan sejarah atau kenangan akan menimbulkan penyesalan selain kepuasan.

Sebelumnya aku tak pernah menyentuhmu selain saat kita pertama kali bertemu dan saling mengenalkan diri, saling membuka diri, saling selidik, saling mencuri pandang untuk pertama kali, saat itu pula aku melihat diriku dalam dirimu.. begitu nyata.

Sedikitpun aku tak bisa mengingatmu, bahkan saat ini, yang aku lihat saat membayangkanmu adalah diriku dalam sosokmu, dan aku menatap bayanganmu dalam aku.

aku selalu menatapmu dalam-dalam, bukan karena aku ingin mengingatmu, namun Baca Lanjutannya..

Cara Masing-masing.. (heart – alone)

I hear the ticking of the clock
I’m lying here the room’s pitch dark

Aku melirik jam di ponsel, rupanya sudah jam 11 malam dan mataku masih terpicing tajam, di dalam gelap ruangan kamar aku hampir bisa melihat semuanya, aku terdiam dalam kamarku sendiri, suara hembusan pendingin ruangan jadi satu-satunya suara berisik selain tik-tik jam di dinding kamar, jam itu menunjukkan pukul 7, entah itu siang atau sore, tapi sudah lama jarum detik, menit dan jam-nya tidak bergerak, baterai baru yang kujejalkan di punggung badan jam itu juga tak mampu menggerakkan waktu untuknya. Tapi waktu sebenarnya bergerak, mungkin dia ingin tetap berada disana, seperti aku yang selalu ingin ada di dekatnya..

“luna…”, panggilku pada kesendirianku, aku ingin dia disini.

I wonder where you are tonight

Aku membayangkan dimana sosokmu malam ini, Apakah sudah tengkurap lelap? apakah masih termenung terjaga?, atau masih entah berada dimana? Aku mengamit ponselku, cahaya biru menyebar merampas tanpa cahaya dan gelap. Aku memencet nomornya, aku memanggilnya lewat frekuensi tinggi udara..
Baca lanjutannya

Heart – Alone

Another unimportant thing to read

What was happen on 4-5th nop 2007 ??

+ “aku kesana yah, kmu masih mo tiduran aja hari ini ?”, tanyaku pelan.

- “iyaa.. ”, terdengar suaranya sedikit terpotong, dia menguap.

+ “emang mo bangun kapan ?”, candaku

- “besok…”, suaranya malas sekali..

+ “oh.., o.k, mo tidur lagi ? ya udah..”, I feel so helpless.

- “iya.., dah yaaa… daaah….”.

+ “daah….”, sedikit rasa kecewa karena harapan bertemu dengannya pupus saat itu.

Handphone satunya berdering, nada deringnya enak ayo-down on my knees, tapi aq buru-buru angkat ponselku, aku menghapus niatanku untuk mendengarkan lagu itu sampai selesai.

Baca lagi dong..

Met ultah cinta pertamaku..

Aku tak pernah bisa sekalipun melupakan atau lalai akan hari ini, bukan karena apapun selain hari ini adalah hari ulang tahun cinta pertamaku.

Hadiah dari Tuhan

Slank – Anyer, 10 Maret

Why..

silahkan kunjungi sponsor kami :

MP3 Search & Download

mp3 search by apapun.info

sponsor :


sponsor kami :