Mouse dan Kiborku

Netto 220ml

Thursday, 21st August 2008

cerminan

Posted by irdix

“siapa kamu? apa aku bisa mengenalmu dari namamu?”

“Segala hal yang indah pada diriku akan selalu hidup walaupun aku mati nantinya, itu makna namaku”, jelasnya.

“nama yang indah”, kataku membalas. “aku jadi ingin mencuri nama itu”, lanjutku.

“jangan..” , sergahnya lirih, tangannya seolah menahan gerakku untuk melakukannya.

“kenapa?”, tanyaku.

“itu nama yang paling aku cintai, untuk apa kamu mencuri namaku?”

“untuk bercerita”

“kamu boleh meminjamnya jika itu keinginanmu”

“baiklah, tapi kenapa kamu sangat mencintai nama itu?”, aku bertanya lagi padanya, sesaat tangannya melepaskan gerakku.

“karena,nama itu yang menjadikanku seperti ini, indah untuk siapa saja yang mengenaliku”, ucapnya menerawang, sedikit senyum terbersit di wajah ayu nya, aku tahu dia menjawab itu benar adanya.

“tapi aku belum mengenalmu, kamu bahkan belum menyerbu ke dunia kecilku”

“kenalilah aku lewat gambaranku yang kamu dapat”, jawabnya tersenyum, setidaknya aku yakin dia tersenyum.

“aku mengenali seseorang dari tulisan dan sosoknya, tanpa keduanya aku tak bisa”, jawabku menolak.

“apa kamu ingin menyentuhku? menelanjangiku dengan mata kamu untuk bisa mengenaliku?”,tanyanya penuh selidik.

“ya, tapi tidak hanya saat aku akan mengenalimu saja, setiap saat aku ingin seperti itu”

“jika seperti itu sentuh dan kenali aku lewat kata-katamu”, jawabnya santun.

“dunia kecilku mungkin terlalu sempit untuk gambaranmu”

“mengapa terlalu kecil untuk gambaranku? dari mana kamu mengenalku?”

“dari seorang teman yang juga sahabat dan saudara”

“apa yang dikatakannya tentangku dan hari-hariku?”

“dia bercerita tentang.. tidak ada, dia bercerita tentang.. sesosok wanita, dia bercerita tentang.. kegembiraannya bersahabat denganmu” kataku.

“temanku juga bercerita tentang seseorang kepadaku, tapi aku selalu berkata padanya jika aku menghargai setiap pembicaraan tetapi aku tak mau mencampuri sosok pribadi seseorang”

“aku setuju denganmu, seperti tadi aku katakan padamu jika temanku bercerita tentang.. tidak ada.., aku mengenal seseorang dari tulisan dan sosoknya, mungkin ada seorang pencuri yang aku kenal sebagai teman, mungkin ada seorang penjahat yang aku kenal sebagai sahabat.. mungkin..”

“jika seperti itu, menurutmu aku seperti apa untukmu? pencuri atau penjahat?”

“saat ini aku belum mengenalimu, aku cuma tahu jika kamu bisa menjadi seorang pencuri, saat ini aku hanya tahu dan mengenalimu sebagai sesosok wanita, itu saja”

“aku identik dengan sosok itu”

“ya, semua wanita bisa mencuri hati pria”

“tidak”

“ya”

“tidak, aku tak pernah mencuri hati”

“ya, kamu bukan pencuri.. tapi pria memberikan hatinya padamu dan mereka merasa tercuri hatinya karena kamu tak membalasnya”

“haha.. ya..”

kemudian kami terdiam, menikmati sejenak waktu yang mengantarkan sedikit kesegaran dan tanda tanya dalam diri masing-masing.

“bilur itu perlahan sematkan jerat urai hati dlm pemikiran yang kadang pengap, bilur sesal itu sering salah langkahkan jejak, meski perlahan terungkap tapi tak kan pernah terasa jika itu memang terjadi ya siapapun takdirku krn ini akan selalu berulang terjadi”, ungkapnya pelan dan dalam.

“namun.. kadang waktu datang tak membawa pertanda”, jawabku menyangkal.

“pertanda itu tak kan mampu menandai”,sanggahnya.

“tapi pertanda akan selalu meninggalkan bekas”

“bekas? dalam sesalkah? dalam benak? di dalam diri? atau dimana lagi?”, tanyanya mencecarku.

aku menghela nafas melihatnya, lalu aku menjawab.

“terkadang dalam sesal, terkadang dalam benak, tapi itu semua lebih baik dari meninggalkan bekas luka dalam hati.. kamu wanita yang kuat”.

“tidak, aku bukan sosok seperti itu, aku hanya gambaran, aku hanya gambaran dari hati yang tak mampu membawa rasa untuk memilih”, sergahnya.

“jangan memilih, tapi pilah.. janganlah terus menangis di malam hari”, kataku.

“memilah dalam tangis?? aku akan selalu salah.. karena aku perempuan.. tapi aku tak ingin dikatakan lemah.. aku ingin hidup dalam duniaku, dalam kelemahanku, dalam kekuranganku, dalam cita-citaku..”, emosi dan inginnya membuatku terdiam, dia gemetar. “entah mampukah aku.. karena aku mulai berfikir, apa sebenarnya aku ada.. hanya itu..”

“pilah lah seperti laut memilah garam dengan airnya, belajarlah dari luasnya laut, ia akan mengajarimu kebenaran”

“laut tak akan mampu mencerna diriku”

“jika seperti itu belajarlah mencerna keindahan seperti langit”, kataku.

“langit tak akan mampu melukiskan keindahanku, bahkan aku tak mampu gambarkan diriku sendiri, aku akan berhenti saja..”

“biarkan cahaya mencipta bayanganmu..”

“… cahaya tidak mampu menembus diriku”

“cahaya tidak akan menembusmu, ia akan menimpamu dengan lembut dan membentuk gambarmu yang membumi”, jawabku.

Sekali lagi kami terdiam, memahami semua aliran kata-kata yang terungkap dalam sergahan, sanggahan dan pertengkaran kecil itu.

“kenapa kamu terdiam, aku menunggumu dalam barisan huruf yang terjajar dalam kata-kata yang meluncur dari pita suaramu”, tanyaku padanya yang hanya diam.

“apa kamu menunggu kata-kataku yang seperti jejak yang berbaris? dimana kalis rinduku yang tipis?”

“aku menunggu kata-kata sosok gambarmu”

“aku bukan sosok yang digambarkanmu”

“seperti aku yang bukan sosok oleh gambaranmu”

“aku hanya jejak diatas pasir, karena sebenarnya aku tak pernah ada..”

“aku akan membaca pasir itu, disanalah aku akan berdiri dan melihat jejak itu, disana aku akan tahu jika kamu ada”

“aku takkan mampu kamu rengkuh”

“aku takkan merengkuh..”

“ada hal yang lebih kuasa siratkan itu, hempaskan itu, hapus itu, karena aku tak pernah ada dalam itu lama.. bahkan aku hampir bisa melupakannya”

“aku telah menghapus diri semua orang sejak lama, bahkan tidak diriku sendiri tercatat..”

“tidak juga oleh tinta yang ditorehkan langit?”

“kamu wanita tinta ungu..”

“ungu dalam bayangan yang tertangkap oleh mu?”

“ungu dalam bayangan yang kamu ciptakan sendiri”

“aku ungu.. ungu dalam kesepianku, dalam kesendirianku, hanya kamuflase dan fatamorgana yang aku jalani, tanpa berpijak dan tak ingin tinggalkan jejak.. bahkan tak ada yang akan mengingatku atau mengenalku”

“tidakkah kamu lelah? tidakkah kamu lelah terbang dan tak berpijak? tidakkah kamu lelah menolak?”

“sayap ini tak pernah lagi terbang, karena sudah lama patah.. kepaknya pun lemah.. aku tak pernah menolak, bahkan aku tak pernah meminta..”

“jangan kamu patahkan sayapmu sendiri.., seekor burung bahkan dengan kepakan kecil pun bisa terbang tinggi.. kamu terbang.., aku hanya bertanya.. tidakkah kamu lelah terbang?”

“aku lelah, mungkin aku lelah bertahun-tahun terbang hindari sesuatu”

“apakah kamu takut disangkarkan hingga kamu terus terbang?”

“ya.. aku takut terjerat, aku takut tersesat dalam sangkar.. bahkan aku takut melihat bayanganku, karena itu mungkin aku terbang tinggi”

“jika suatu hari kamu menemui sangkr teruslah terbang, dan jika suatu hari nanti kamu menemui ranting beristirahatlah”

“aku takut ranting itu tak akan mampu menahanku..”

“ranting adalah ranting, dan nantinya ia akan patah juga..”

“entahlah, karena aku inginkan kepakku mengalir, perlahan tak menghempas”

“semua pelabuhan adalah ranting”

“aku takut, aku tak mau kehilangan lagi, sudah cukup nafas itu terhenti di pangkuanku, dalam kesalahanku.. dalam kebodohanku..”

“kamu tak pernah kehilangan.. sesungguhnya hilang karena tak diingat, jika kamu mengingatnya.. maka hiduplah.. karena kamu tak kehilangan apapun..”

“sebenarnya hanya ada satu hal yang bisa merubah diriku”

“ya satu hal yang sangat besar dan agung.. yang sangat kamu hindari.. dirimu sendiri..”

“iya.., itulah aku..”

Kami tersenyum dan kemudian aku mengulurkan tanganku padanya.. sembari berkata..

“Hai Jasmine Saraswati.. kini aku mengenalmu..”

“hai..” jawabnya tersenyum, memori dan ingatan di matanya tak akan pernah terhapus, tapi aku tahu dari senyumnya bahwa dia memang kuat.

merry hardiknas..
Ho..Ho..Ho..



----------------------------------------------------------

links to visit:

Bandung City Cicenet Ebook Printing Hawkins4Congress Indonesian Idol Info Indonesian Idol Org Studio Inova Lyrics Update Models Guide My Review Land My MP3 Song Night Banquet NLOCI Payday Loans my indonesian version of blog mybest friend blog another blog of mine aborsi

12 Responses to “cerminan”

  1. uhuuuuuuuuuuuuuiiiiiiiiiiiiiiii….
    cerita ama mbak….. ehm… ehm…
    cuit… cuit…

  2. ulan
    udah lah mbak.. jangan jeles gitu lah..
    aku tau kok kalo sebenernya mbak tuh jeles, sayang pengungkapan jelesnya buruk.. pake acara lempar bantal, guling, kasur, meja, kursi, kulkas, TV, rak sepatu dan lain-lainya..

  3. waw seperti biasa kisanak tulisan mu sangat berbobot. Apa sebeb berbobot karena aq gak paham kamu ngomong apa dah ta ketik perintah devine : irdix post cerminan tetep return null

  4. idham
    waduh.. saya kan nulisnya pake windows yang sudah terbeli dengan resmi dan bersertifikat.. bukan karena mampu beli.. tapi pake linux sedikit membuat saya kesusahan menghapus kebiasaan lama ngintipin jendela..

    coba pake perintah
    telnet_otaknyairdix
    user: irdix
    pass: cakep

  5. Akhirnya, setelah berhenti nyabul dan gangbang, kreasimu kembali….

    Apa memang kamu harus ngaceng supaya bisa nulis bagus? -tolong dijawab-

  6. @ ko besar
    iya.. harus ngaceng (ngaceng=kenyang, bali).

  7. woooooo… pancene ko Besar kalo ngomong ama om irdix mesti saru-saru.. kayak nya emang kalian soulmate deh..

  8. @ulan
    mesti cemburu buta ijo..

  9. @ulan:
    emang boleh ngomong saru-saru sama kamu? Nanti ditabrak CRV??

    Bukannya takut sih, cuma kasian aja kalo kamunya akhirnya kecantol sama aku, kayak si irdix.

    @ irdix:
    sayang… besok mau lagi??

  10. gyaaaaaa……..!!!

  11. ::selamat hadir kembali irdix…sekarang sudah menjasmin ya…., enggak aroma aneh lagi… :)

  12. hhuahahahahahahahaha…

    Daripada postingnnya, lebih lucu koment2 yg ada kocak!!!

Leave a Reply